Kisah Tanggul Jebol dan Harapan yang Masih Bertahan di Pantai Kramatsari

  • Bagikan
banner 468x60

Pemalang – Suara ombak yang menghantam daratan di Pantai Kramatsari sore itu terdengar muram. Tidak ada lagi riuh tawa wisatawan, tak ada payung warna-warni, apalagi aroma jagung bakar. Hanya tiupan angin laut yang menyisakan kenangan masa lalu—masa ketika pantai ini menjadi primadona wisata Pemalang, sekitar tahun 2017.

Kini, yang tersisa hanyalah cerita dan sisa-sisa usaha warga yang perlahan terkikis abrasi. Salah satunya Harini, pemilik warung yang masih bertahan. Dulu ia bisa mengantongi Rp6 juta di akhir pekan. Kini, ia hanya mengandalkan kesabaran dan doa.

“Waktu itu harga es teh cuma seribu. Orang antre beli. Tapi sekarang, lihat sendiri. Airnya sudah masuk ke jalan, listrik pun tenggelam,” ucapnya sambil menunjuk ke arah tanggul yang jebol.

Tanggul itu dikenal warga dengan nama Kandang Jangkrik karena bentuknya mirip kotak kandang. Dibangun swadaya tahun 2024, tanggul ini menjadi simbol perlawanan warga terhadap abrasi. Tapi harapan itu kembali terpukul gelombang besar pada awal 2025.

Melihat kondisi ini, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (Purn) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., turun langsung meninjau titik kerusakan pada Rabu (28/5). Didampingi jajaran, ia menyusuri garis pantai Desa Blendung, Kecamatan Ulujami, dengan sepatu penuh lumpur dan mata yang penuh keprihatinan.

“Paling pokok, masyarakat kita tidak boleh terdampak. Jangka pendek ini kita harus segera selesaikan perbaikan tanggul sepanjang satu kilometer,” tegasnya.

Lebih dari sekadar instruksi, kunjungan itu membawa semangat baru: percepatan perbaikan, pendataan wilayah terdampak rob, dan penguatan ekosistem pesisir. Salah satu langkahnya—menggiatkan penanaman mangrove di pesisir utara Jawa Tengah.

Ia menggandeng seluruh unsur: dari bupati, kapolres, dandim, hingga masyarakat dan pegiat lingkungan. Menurutnya, ini bukan sekadar tugas pemerintah, tetapi gerakan bersama menjaga garis hidup pesisir.

Untuk jangka menengah, gubernur memastikan pendataan lahan tambak, sawah, dan masyarakat terdampak akan dilakukan. Sedangkan jangka panjangnya, ia membawa harapan besar: proyek tanggul laut dan kolam retensi seperti di Sayung, Demak akan diperluas hingga Brebes pada periode 2025–2027.

“Ini akan kita analisis. Sayung sudah jadi contoh. Tinggal kita tarik garis ke barat sampai Brebes,” imbuhnya.

Di tengah semua itu, Andriadi, Kepala Pelaksana Harian BPBD Pemalang, menjelaskan bahwa upaya tanggul bambu warga telah menjadi catatan penting. “Kami salut, warga bergerak duluan. Model kandang jangkrik itu meniru dari Demak. Sayangnya, belum cukup kuat melawan gelombang tahun ini,” jelasnya.

Meski tanggul kandang jangkrik telah jebol, tekad warga belum ikut runtuh. Seperti Harini, yang tetap membuka warung meski tanpa pembeli. Seperti laut yang terus pasang surut, ia yakin, harapan pun bisa datang kembali.

Sumber: Humas Pemprov Jateng

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *