Jagung Jadi Andalan, Polresta Pati Gerakkan Lintas Sektor untuk Ketahanan Pangan

  • Bagikan
banner 468x60

PATI – Pagi itu, Selasa (10/6), Aula SAR Polresta Pati tampak lebih sibuk dari biasanya. Sejak pukul 09.30 WIB, para pejabat dari berbagai instansi berdatangan. Ada yang mengenakan seragam dinas kehutanan, jas dinas pertanian, hingga seragam khas kepolisian. Mereka bukan sekadar datang untuk seremonial—hari itu, mereka duduk bersama untuk satu tujuan penting: mendorong peningkatan produksi jagung di Kabupaten Pati.

Rapat koordinasi lintas sektoral ini dipimpin langsung oleh Kapolresta Pati, AKBP Jaka Wahyudi. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya sinergi semua pihak. “Ini bukan hanya soal jagung, tapi tentang ketahanan pangan nasional. Kalau kita solid, target produksi pasti bisa tercapai,” ujarnya lugas.

Yang menarik, rapat ini tak hanya dihadiri pejabat. Sekitar 70 perwakilan Kelompok Tani Hutan (KTH) dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) juga hadir. Mereka adalah para petani yang sehari-hari bersentuhan langsung dengan tanah dan cuaca—ujung tombak produksi jagung.

Salah satu informasi penting datang dari Cabang Dinas Kehutanan Wilayah II. Disampaikan oleh Bapak J. Budi Prasetya, dari total 11.486 hektare lahan KHDPK di Pati, sudah ada 15 kelompok tani yang mengantongi SK, dan dari total 5.996 hektare lahan itu, 3.937 hektare sudah ditanami jagung. Angka yang cukup menjanjikan, namun menurutnya, “Masih banyak potensi yang bisa digarap, asalkan regulasinya dipatuhi.”

Dari sisi pengelola hutan negara, Administratur KPH Pati, Arif Fitri Saputra, membawa kabar baik: Perhutani siap menyediakan tambahan 3.000 hektare untuk ditanami jagung. Tapi beliau juga memberi catatan penting, “Lahan boleh digarap, tapi tetap jaga kelestarian. Kita dorong sistem agroforestry, di mana jagung ditanam dengan jarak 6×3 meter di sela pohon-pohon.”

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pati, Ratri Wijayanto, menyampaikan data yang memperkuat optimisme. Dalam lima tahun terakhir, produksi jagung Pati mencapai 175 ribu ton per tahun. Tahun 2025 nanti, mereka menargetkan Luas Tambah Panen (LTP) sebesar 25.942 hektare. “Kami siap mendukung dari sisi teknis dan pendampingan,” jelasnya.

Lalu bagaimana soal penyerapan hasil panen? Di sinilah peran Bulog masuk. Nur Hardiansyah, Kepala Cabang Bulog Pati, memastikan bahwa pihaknya siap menyerap hasil panen jagung dengan harga Rp 5.500/kg untuk kadar air 14%. Bahkan, gudang penyimpanan berkapasitas 2.000 ton di Juwana sedang direnovasi, demi mendukung proses ini.

Menutup rapat, AKBP Jaka Wahyudi kembali menegaskan arah ke depan. “Kita punya potensi luar biasa. Ada 2.400 hektare lahan singkong yang siap dialihkan ke jagung pada musim tanam berikutnya. Kalau ini berjalan, kita bukan hanya bicara ketahanan pangan lokal, tapi kontribusi nyata untuk nasional.”

Rapat hari itu memang berakhir siang, tapi semangat yang tercipta sepertinya akan bertahan lebih lama. Di tangan para petani, dan dengan dukungan lintas sektor yang solid, jagung dari Pati siap menjadi kekuatan baru bagi ketahanan pangan Indonesia.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *