Krisis Air Hambat Produksi Garam, Mukit Dorong Normalisasi Saluran Tambak Batangan

  • Bagikan
banner 468x60

PATI, suarakabar.co.id — Krisis pasokan air laut menjadi salah satu kendala yang dihadapi petani garam di Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati. Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Sekretaris Komisi B DPRD Kabupaten Pati, Mukit.

Mukit mengatakan, pihaknya menerima laporan mengenai minimnya pasokan air laut yang masuk ke kawasan tambak garam. Akibat kondisi tersebut, ratusan hektare lahan tambak tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.

“Informasi yang kami terima, lebih dari 300 hektare tambak garam di Batangan terdampak karena kesulitan mendapatkan pasokan air. Ini tentu berpengaruh terhadap aktivitas dan produksi petani,” ujar Mukit.

Menurutnya, kondisi kekurangan air pada musim kemarau kali ini dirasakan lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya. Rendahnya pasang air laut membuat petani kesulitan mengalirkan air secara langsung ke areal tambak.

Selain faktor pasang laut, Mukit menilai pendangkalan pada saluran menuju tambak turut memperparah kondisi tersebut. Saluran yang tidak optimal membuat air laut sulit masuk dan menjangkau area tambak yang membutuhkan pasokan air.

“Air lautnya sulit masuk karena pasangnya rendah, ditambah ada saluran yang mengalami pendangkalan. Akhirnya petani harus menggunakan pompa seadanya sambil menunggu kondisi pasang,” jelasnya.

Mukit menilai persoalan tersebut tidak cukup hanya diatasi dengan langkah sementara. Menurutnya, diperlukan penanganan pada infrastruktur saluran air agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.

Komisi B DPRD Pati, lanjut dia, akan berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah terkait untuk membahas langkah penanganan yang dapat dilakukan.

Salah satu opsi yang dinilai penting adalah normalisasi saluran tambak. Dengan saluran yang kembali memiliki kapasitas optimal, distribusi air laut ke kawasan tambak diharapkan menjadi lebih lancar.

“Normalisasi saluran perlu menjadi perhatian. Kalau akses air lautnya lancar, petani akan lebih mudah mengelola tambaknya dan produksi garam juga bisa lebih maksimal,” katanya.

Mukit berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret untuk membantu petani garam di Batangan. Selain menyelesaikan persoalan pasokan air, penanganan infrastruktur saluran dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan produksi garam di kawasan tersebut.

(ADV)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *