Kemarau Panjang Berdampak pada Petani Garam Batangan, Produksi Terhenti Hampir Dua Pekan

  • Bagikan
banner 468x60

PATI, suarakabar.co.id – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Pati tidak hanya berdampak pada sektor pertanian dan tambak ikan. Kondisi tersebut juga mulai memukul petani garam rakyat di wilayah Kecamatan Batangan.

Minimnya pasokan air laut akibat rendahnya pasang membuat petani kesulitan mengisi lahan tambak garam. Akibatnya, aktivitas produksi garam di sejumlah tambak terpaksa dihentikan.

Sekretaris Komisi B DPRD Pati, Mukit, mengatakan kondisi tersebut telah berlangsung hampir dua pekan. Rendahnya air pasang laut membuat petani tidak dapat memasukkan air ke dalam tambak untuk memulai proses produksi.

“Petani tambak sangat mengeluh karena air pasang lautnya sangat kecil, sehingga produksinya hampir dua minggu ini berhenti,” ujar Mukit.

Menurutnya, kondisi tersebut cukup disayangkan karena harga garam saat ini justru berada pada level yang relatif menguntungkan bagi petani. Harga garam di tingkat petani disebut berada di kisaran Rp780 hingga Rp800 per kilogram.

“Tahun ini harga garam berkisar Rp780 sampai Rp800-an. Ini harga yang bagus bagi petani, tapi sayangnya air tidak ada,” katanya.

Mukit menjelaskan, produksi garam rakyat sangat bergantung pada ketersediaan air laut. Ketika pasang tidak cukup tinggi, air sulit dialirkan menuju tambak sehingga tahapan produksi tidak dapat dilakukan.

Kondisi itu pada akhirnya berdampak langsung terhadap pendapatan petani. Momentum harga garam yang sedang baik pun tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal karena produksi terhenti.

Karena itu, Mukit mendorong pemerintah daerah untuk mencari langkah konkret guna membantu petani garam menghadapi kondisi tersebut. Salah satu opsi yang dapat dikaji yakni penyediaan pompa maupun normalisasi saluran yang menjadi jalur masuk air laut menuju kawasan tambak.

“Jangan sampai di saat harga bagus petani justru tidak bisa panen. Pemerintah harus hadir membantu petani garam di Batangan,” tegasnya.

Ia berharap kondisi pasang laut segera kembali normal sehingga petani dapat mengisi tambak dan melanjutkan produksi. Dengan demikian, petani masih memiliki kesempatan memanfaatkan harga garam yang saat ini cukup tinggi.

Para petani garam juga berharap pasang air laut segera membesar agar aktivitas produksi dapat kembali berjalan dan mereka bisa mengejar produksi setelah hampir dua pekan mengalami penghentian.

(ADV)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *