Muntamah Dorong Sinergi Sekolah dan Pesantren untuk Mencetak Generasi Berkarakter

  • Bagikan
banner 468x60

PATI – Anggota DPRD Kabupaten Pati, Muntamah, menilai pendidikan formal dan pendidikan pesantren sebaiknya berjalan beriringan. Menurutnya, perpaduan keduanya mampu mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak yang kuat.

Ia menjelaskan bahwa sekolah umum memberikan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan, sedangkan pesantren memperkuat pendidikan agama sebagai fondasi pembentukan kepribadian.

“Kalau sekolah umum itu fokus pada ilmu pengetahuan. Sementara di pesantren anak-anak juga tidak hanya belajar agama, tetapi tetap mendapatkan materi umum,” ujar Muntamah.

Politisi tersebut mengungkapkan bahwa konsep itu telah diterapkannya dalam keluarganya. Anak-anaknya menempuh pendidikan di SMA di perkotaan, kemudian pada malam hari mengikuti kegiatan mengaji di pesantren.

“Kalau siang sekolah, malamnya wajib mengaji di pesantren. Karena rumah saya di desa dan SMA yang lebih maju ada di kota, maka anak-anak saya harus tinggal di kos,” tuturnya.

Menurut Muntamah, pengalaman tersebut membuktikan bahwa pendidikan pesantren tidak menghambat prestasi akademik. Justru nilai-nilai yang diajarkan di pesantren, seperti disiplin, tanggung jawab, serta penghormatan kepada guru, menjadi modal penting dalam menunjang keberhasilan belajar di sekolah.

“Di pesantren anak-anak dibentuk agar memiliki akhlakul karimah, hubungan dengan Allah baik, dan hubungan dengan masyarakat juga baik. Itu yang kemudian mendukung mereka saat belajar di sekolah,” katanya.

Ia menambahkan, kedisiplinan yang terbentuk selama di pesantren membuat peserta didik lebih mudah menaati aturan sekolah dan memiliki semangat belajar yang lebih tinggi.

“Sehingga keduanya saling mendukung. Anak-anak menjadi lebih disiplin, lebih taat kepada guru, ilmunya berkembang, dan akhlaknya juga baik,” imbuhnya.

Muntamah juga menepis anggapan bahwa lulusan pesantren hanya menguasai ilmu agama. Ia mencontohkan anak-anaknya yang tetap melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi, bahkan ada yang menempuh studi ke Jepang dan sejumlah negara di Eropa.

“Anak-anak saya, meskipun kuliah S1, tetap saya wajibkan mondok. Mau ke Jepang atau ke Eropa pun, mereka tetap membawa identitas sebagai santri,” tegasnya.

Ia berharap semakin banyak orang tua yang menerapkan pola pendidikan yang menggabungkan sekolah formal dengan pendidikan pesantren. Menurutnya, model tersebut menjadi bekal penting untuk melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, dan berakhlak mulia.

(ADV)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *