45 Kebakaran Lahan Terjadi Saat Kemarau, Ketua DPRD Pati Minta Kewaspadaan Ditingkatkan

  • Bagikan
banner 468x60

PATI, suarakabar.co.id  – Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Pati tidak hanya menyebabkan krisis air bersih dan kekeringan lahan pertanian, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran lahan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati mencatat sebanyak 45 kejadian kebakaran lahan terjadi di 38 desa sejak akhir Juli hingga September 2026. Kebakaran tersebut terjadi di tengah kondisi kekeringan yang telah melanda 40 desa di 10 kecamatan.

Ketua DPRD Kabupaten Pati, Ali Badrudin, meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi cuaca masih panas dan kering.

Menurutnya, potensi kebakaran harus menjadi perhatian bersama, terutama pada lahan pertanian, perkebunan, pekarangan, hingga kawasan yang ditumbuhi vegetasi kering.

“Musim kemarau seperti sekarang ini harus kita waspadai bersama. Tim Damkar harus selalu siap, baik personel maupun armadanya, sehingga ketika terjadi kebakaran bisa segera ditangani,” kata Ali.

Selain kesiapsiagaan petugas, Ali juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar.

“Yang paling penting adalah kewaspadaan dan pencegahan. Jangan sampai karena kelalaian kecil kemudian menyebabkan kebakaran besar yang merugikan masyarakat,” tegasnya.

Ali mengatakan, kondisi kemarau panjang membuat material seperti rumput, daun, tanaman tebu dan vegetasi lainnya menjadi mudah terbakar. Karena itu, tindakan pencegahan dinilai penting agar api tidak cepat meluas.

Data BPBD menunjukkan kebakaran lahan menjadi salah satu dampak yang muncul bersamaan dengan meluasnya kekeringan. Bahkan, wilayah Jaken disebut menjadi salah satu lokasi yang mengalami kebakaran, dengan tanaman tebu dan rumpun bambu ikut terbakar.

Di sisi lain, Pemkab Pati telah menetapkan status tanggap darurat kekeringan mulai 18 September 2026. Penetapan tersebut dilakukan setelah kekeringan melanda 40 desa di 10 kecamatan dengan luas lahan terdampak mencapai sekitar 1.700 hektare.

Ali berharap sinergi antara pemerintah daerah, petugas pemadam kebakaran, BPBD, pemerintah desa, serta masyarakat terus diperkuat selama kemarau berlangsung.

“Jangan hanya bergerak ketika api sudah membesar. Pencegahan harus dilakukan sejak awal, karena kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebakaran agar dapat ditangani secepat mungkin.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *