Layanan Cath Lab RSUD Soewondo Pati Segera Dijamin BPJS, Pasien Jantung Tak Perlu Dirujuk ke Luar Daerah

  • Bagikan
banner 468x60

PATI, suarakabar.co.id – Pemerintah Kabupaten Pati bersama BPJS Kesehatan terus mematangkan kerja sama layanan kateterisasi jantung atau Catheterization Laboratory (Cath Lab) di RSUD RAA Soewondo Pati. Kerja sama ini diharapkan dapat memperluas akses pelayanan kesehatan bagi pasien jantung, khususnya peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), sehingga tidak perlu lagi menjalani rujukan ke luar daerah.

Kesiapan layanan tersebut ditinjau langsung oleh Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito bersama Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra di Ruang Seruni RSUD RAA Soewondo, Kamis (29/10/2026). Penandatanganan kerja sama ditargetkan dapat dilaksanakan pada 17 November 2026.

Chandra mengatakan, keberadaan layanan Cath Lab sangat dibutuhkan masyarakat Kabupaten Pati, terutama bagi pasien yang mengalami gangguan jantung dan membutuhkan tindakan medis secara cepat.

Menurutnya, pengadaan peralatan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) 2023 telah berlangsung hampir tiga tahun. Saat ini, RSUD RAA Soewondo juga telah memiliki tenaga dokter spesialis jantung untuk mendukung operasional layanan tersebut.

“Tujuannya bukan semata menghadirkan teknologi medis, melainkan memastikan masyarakat mendapat layanan jantung yang aman, bermutu, terjangkau, dan dekat dengan tempat tinggalnya,” kata Chandra.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data sepanjang 2024, terdapat 1.318 kasus sindrom koroner akut di enam rumah sakit di Kabupaten Pati. Dari jumlah tersebut, sebanyak 308 kasus merupakan serangan jantung jenis STEMI yang membutuhkan penanganan segera.

Menurutnya, jarak rujukan dan keterbatasan akses pelayanan dapat meningkatkan risiko komplikasi hingga kematian apabila pasien terlambat mendapatkan tindakan medis.

Sementara itu, Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito menegaskan, kerja sama pembiayaan layanan Cath Lab melalui JKN harus didahului pemenuhan seluruh persyaratan teknis. Pemeriksaan mencakup kesiapan peralatan medis, dokter, hingga tenaga perawat yang akan memberikan pelayanan.

Setelah kerja sama berjalan, BPJS Kesehatan juga akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan layanan selama kurang lebih enam bulan.

“Kalau dokter, perawat, dan alatnya siap, kerja sama segera dilakukan. Dengan begitu, pasien tidak perlu lagi dirujuk ke Kudus atau Rembang,” ujar Prihati.

Selama ini, pasien jantung dari Kabupaten Pati masih menghadapi tantangan dalam mendapatkan layanan kateterisasi di rumah sakit luar daerah, termasuk RSUP Dr. Kariadi Semarang. Keterbatasan kapasitas rumah sakit rujukan, terutama ketersediaan tempat tidur ICU, serta proses administrasi dan perjalanan rujukan menjadi kendala tersendiri.

Karena itu, keberadaan Cath Lab yang dapat diakses melalui JKN di RSUD RAA Soewondo dinilai menjadi langkah penting untuk mempercepat penanganan pasien jantung.

Chandra juga menilai peningkatan fasilitas kesehatan memiliki dampak lebih luas terhadap pembangunan daerah, termasuk dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Ia menyebut, dalam Pati Business Forum di Pendopo Kabupaten Pati, nilai investasi yang masuk mencapai hampir Rp12,6 triliun. Menurutnya, ketersediaan fasilitas kesehatan menjadi salah satu aspek yang turut diperhatikan calon investor sebelum menanamkan modal.

“Dalam Pati Business Forum di Pendopo Kabupaten Pati, investasi yang masuk mencapai hampir Rp12,6 triliun. Investor juga menanyakan jumlah dan kondisi rumah sakit. Investasi yang tumbuh diharapkan membuka lapangan kerja bagi masyarakat,” ungkapnya.

Plt Direktur RSUD RAA Soewondo Pati Ahmad Husin menjelaskan, rumah sakit yang berdiri sejak 1932 tersebut merupakan rumah sakit tipe B pendidikan sekaligus rujukan regional kawasan Pantura Timur.

RSUD RAA Soewondo memiliki kapasitas 330 tempat tidur dan melayani pasien dari berbagai wilayah. Dari sisi akses pelayanan, jarak antara Instalasi Gawat Darurat (IGD) menuju ruang Cath Lab dapat ditempuh dalam waktu kurang dari lima menit.

“Cath Lab mulai beroperasi pada 20 Desember 2024 untuk melayani pasien umum. Kami terus mengupayakan agar layanan ini dapat dijamin BPJS Kesehatan sehingga akses pasien terhadap tindakan kateterisasi jantung semakin luas,” jelas Ahmad Husin.

Dari sisi sumber daya manusia, RSUD RAA Soewondo telah didukung satu dokter konsultan jantung dan pembuluh darah, dua dokter spesialis jantung, serta satu dokter yang sedang menjalani pendidikan intervensi.

Selain itu, tersedia tiga perawat jantung intervensi, lima perawat kardiologi dasar, dan dua radiografer kateter. Seluruh komponen tersebut menjadi bagian dari penilaian kesiapan layanan dalam visitasi BPJS Kesehatan.

Dalam kesempatan yang sama, Prihati mengingatkan bahwa serangan jantung tidak hanya mengancam kelompok lanjut usia, tetapi juga dapat terjadi pada masyarakat usia produktif. Penanganannya membutuhkan kecepatan karena keterlambatan tindakan dapat meningkatkan risiko kematian maupun kecacatan.

Dampak penyakit jantung juga dapat merembet pada kondisi ekonomi keluarga akibat tingginya biaya pengobatan dan hilangnya produktivitas pasien.

“Gotong royong dalam JKN memungkinkan biaya pelayanan yang besar ditanggung bersama melalui iuran peserta. Namun, mutu layanan dan keberlanjutan pembiayaan harus sama-sama dijaga,” kata Prihati.

Selain membahas Cath Lab, Prihati turut meminta Pemkab Pati dan Dinas Kesehatan mengantisipasi pemutakhiran data Penerima Bantuan Iuran (PBI). Hal ini penting agar perubahan status kepesertaan tidak menyebabkan pasien dengan penyakit kronis, termasuk mereka yang menjalani cuci darah, kehilangan akses pelayanan kesehatan secara mendadak.

Dalam pemaparan tersebut, sekitar 14 ribu peserta disebut berpotensi terdampak pergeseran segmen atau wilayah kepesertaan.

Prihati juga mendorong rumah sakit untuk menekan klaim tertunda (pending claim) sekaligus memperkuat penerapan pelayanan kesehatan berbasis nilai atau value-based healthcare. Dengan demikian, orientasi pelayanan tidak hanya pada banyaknya tindakan medis, tetapi juga pada kualitas dan hasil pengobatan pasien.

Upaya promotif dan preventif turut menjadi perhatian, termasuk rencana gerakan jalan kaki setiap hari pada 2027 serta pengembangan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis).

Melalui berbagai langkah tersebut, Pemkab Pati berharap penguatan fasilitas kesehatan di RSUD RAA Soewondo tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan, tetapi juga memastikan masyarakat memperoleh akses penanganan penyakit jantung yang lebih cepat, mudah, dan terjangkau melalui program JKN.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *