Warsiti: Petani Pati Selatan Resah, Tanaman Diserbu Gerombolan Kera

  • Bagikan
banner 468x60

PATI – Para petani di wilayah Pati Selatan mengeluhkan serangan gerombolan kera liar yang merusak tanaman pertanian di lahan garapan mereka. Sejumlah komoditas seperti jagung, ketela, hingga jambu dilaporkan rusak akibat diserbu kawanan kera dalam beberapa waktu terakhir.

Keluhan tersebut dibenarkan Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati, Warsiti, setelah menerima laporan langsung dari masyarakat di wilayah selatan Kabupaten Pati.

“Petani yang menggarap hutan sosial di wilayah Pati Selatan banyak yang menanam jambu atau jagung, tapi diserang hama kera,” kata Warsiti.

Menurutnya, kera merupakan satwa yang dilindungi undang-undang. Namun, populasi yang dinilai semakin banyak kini justru menimbulkan keresahan di kalangan petani.

“Kera memang binatang yang harus dilindungi, tapi ini sudah meresahkan petani, karena komunitas kera terlalu banyak,” ujarnya.

Warsiti menyebut, wilayah yang paling banyak terdampak berada di Desa Sinomwidodo, Desa Larangan, hingga Desa Pakis. Kawanan kera disebut datang secara bergerombol pada siang hari dan menyerang lahan pertanian warga.

“Sesuai laporan warga, kera-kera ini menyerang siang hari, dan mereka datang secara bergerombol,” jelasnya.

Ia menilai serangan tahun ini jauh lebih masif dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya hanya terlihat satu atau dua ekor, kini jumlahnya mencapai puluhan ekor dalam sekali serangan.

“Serangan kera baru terjadi kali ini. Kalau dulu memang sudah ada, tapi cuma satu sampai dua ekor. Kalau sekarang kera menyerang tanaman petani secara bergerombol,” ungkapnya.

Akibat kondisi tersebut, para petani diliputi kekhawatiran gagal panen dan mengalami kerugian besar apabila serangan terus berulang. Mereka berharap ada langkah konkret dari pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan tersebut.

Warsiti pun mendesak Pemerintah Kabupaten Pati melalui dinas terkait segera turun tangan melakukan penanganan. Menurutnya, perlu ada kajian terhadap populasi kera sekaligus langkah pengendalian yang tetap memperhatikan aspek konservasi satwa liar.

(ADV)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *