PATI — Kasus dugaan keracunan massal juga terjadi di SMPN 1 Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Sebanyak 103 siswa dan sekitar 13 guru dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala SMPN 1 Gembong, Istiana, mengatakan pihak sekolah pertama kali mengetahui adanya keluhan dari siswa pada Rabu pagi (9/9/2026). Saat itu, sejumlah siswa mulai mengeluhkan sakit perut dan berulang kali pergi ke kamar mandi.
“Awal ketahunya malah tadi pagi. Anak-anak banyak yang ke kamar mandi. Kemudian semakin siang semakin banyak,” ujar Istiana.
Melihat jumlah siswa yang mengalami keluhan terus bertambah, pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan Puskesmas Gembong. Namun, karena kapasitas layanan kesehatan tersebut penuh, para siswa kemudian dirujuk ke sejumlah rumah sakit.
“Sudah kita kontak Puskesmas, anak-anak dibawa ke Puskesmas. Tadi Puskesmas sudah overload, kemudian di RSUD Soewondo Pati, kemudian juga di RS Mitra Bangsa, ada juga yang di KSH Pati,” jelasnya.
Istiana menyebut, dari total 443 siswa, sebanyak 103 siswa terdampak. Selain itu, sekitar 13 guru yang turut mengonsumsi makanan MBG juga mengalami keluhan.
Menurutnya, makanan MBG yang diterima sekolah pada hari sebelumnya langsung dibagikan kepada siswa. Pada kemasan makanan disebutkan agar makanan dikonsumsi sebelum pukul 12.00 WIB.
“Biasanya sebelum istirahat pertama, jam 09.30 WIB. Kalau di tray itu kan ada tulisannya, dimakan sebelum jam 12. Sehingga begitu datang langsung kami berikan ke anak-anak,” ungkapnya.
Istiana mengatakan, saat menyantap makanan tersebut, para siswa tidak menunjukkan keluhan. Bahkan, sejumlah siswa justru menikmati menu yang diberikan dan ada yang meminta tambahan.
“Anak-anak kemarin enjoy saja, biasanya sering malah ada yang minta tambah,” katanya.
Namun, keluhan kesehatan baru dirasakan sejumlah siswa pada sore hingga malam hari. Pihak sekolah kemudian melakukan pendataan terhadap siswa yang mengalami gejala tersebut.
“Setelah itu baru sore sama malam. Tadi saya tanya, sore sama malam itu sudah mulai,” imbuhnya.
Hingga Rabu, sebagian siswa yang mendapatkan perawatan telah diperbolehkan kembali ke sekolah. Istiana menyebut siswa yang kondisinya sudah memungkinkan juga telah dipulangkan.
“Yang di Mitra Bangsa sudah sembuh, sudah dikembalikan ke sini,” ujarnya.
Atas kejadian tersebut, pihak sekolah meminta agar distribusi makanan MBG ke sekolah-sekolah dapat dilakukan lebih cepat dan memperhatikan waktu konsumsi yang tercantum pada kemasan.
“Kita sama-sama semua, mohon untuk jam distribusi ke sekolah-sekolah secepatnya. Itu saja, sekolah-sekolah kan kendaliannya di sekolah-sekolah,” tegas Istiana.
Ia mengakui sebelumnya makanan MBG pernah mengalami keterlambatan distribusi. Namun, selama ini keterlambatan tersebut tidak menimbulkan persoalan.
“Sebelumnya pernah telat, cuma aman,” katanya.
Sementara itu, salah seorang siswa SMPN 1 Gembong, Reza, mengaku makanan MBG yang dikonsumsinya terasa enak. Namun, setelah muncul kasus dugaan keracunan, ia mengaku khawatir program tersebut kembali dilanjutkan.
“Itu enak, tapi banyak yang keracunan. Di kelas saya ada lima,” tutur Reza.
Reza sendiri mengaku mengalami sakit perut dan harus beberapa kali pergi ke toilet.
“Sakit perut, ke toilet tiga kali,” ujarnya.
Karena khawatir kejadian serupa kembali terjadi, Reza berharap pemberian MBG dihentikan sementara.
“MBG enggak dilanjut, enggak aman. Alasannya takut, takut keracunan,” pungkasnya.













