Ratusan Nelayan Juwana Tak Bisa Melaut, Sungai Dipenuhi Eceng Gondok

  • Bagikan
banner 468x60

PATI, suarakabar.co.id – Ratusan nelayan tradisional di wilayah Juwana, Kabupaten Pati, terpaksa menghentikan aktivitas melaut akibat Sungai Juwana dipenuhi tanaman eceng gondok dan sampah. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah perahu terjebak dan kesulitan melintas karena permukaan sungai tertutup hamparan tanaman air.

Pantauan di sekitar Jembatan Lama Juwana, Senin (2/11/2026) siang, menunjukkan sebagian besar permukaan sungai tertutup eceng gondok yang menumpuk tebal. Sejumlah perahu nelayan tampak tertahan di tepian sungai lantaran tidak bisa menembus rimbunan tanaman air tersebut.

Juru Bicara Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampisawan), Ari Subekti, mengatakan fenomena penumpukan eceng gondok sebenarnya kerap terjadi setiap awal musim hujan. Tanaman air dari wilayah hulu terbawa arus menuju Sungai Juwana.

Namun, menurutnya, keberadaan Bendung Karet Sungai Juana di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, turut memengaruhi penumpukan tersebut. Eceng gondok yang tertahan di depan bendung akhirnya dialirkan dalam jumlah besar ketika bendung dibuka.

“Ketika menumpuk di bendung karet, lalu akhirnya tiba-tiba dibuka tanpa ada pemberitahuan, sehingga nelayan menjadi kacau karena tiba-tiba eceng gondok yang menumpuk mengalir ke hilir,” ungkap Ari.

Akibatnya, nelayan yang sudah berangkat melaut mengalami kesulitan saat hendak kembali ke daratan. Bahkan, sebagian terpaksa meninggalkan perahunya di lokasi yang jauh dari rumah. Sementara nelayan lainnya tidak bisa berangkat karena jalur pelayaran sungai tertutup tanaman air.

Ari menyebut Jampisawan telah melihat aliran eceng gondok dalam jumlah besar dari wilayah hulu sekitar empat hari sebelum kondisi tersebut terjadi. Setelah bendung karet dibuka, tanaman air itu bergerak menuju wilayah hilir dan menghambat aktivitas nelayan.

Ia menilai koordinasi dan pemberitahuan kepada masyarakat nelayan perlu dilakukan sebelum pembukaan bendung. Selain itu, pembukaan secara bertahap dinilai dapat mengurangi dampak penumpukan eceng gondok di wilayah hilir.

“Misalkan hari ini jam segini akan ada proses pembukaan. Kemudian pembukaan itu kan tidak harus langsung dibuka penuh, sehingga eceng gondok bisa mengalir sedikit-sedikit dan tidak begitu mengganggu nelayan,” jelasnya.

Selain pengaturan pembukaan bendung, Ari mengusulkan penyediaan alat berat untuk mengangkat eceng gondok dan sampah yang tertahan. Dengan demikian, material yang menumpuk tidak sekadar dialirkan sekaligus menuju kawasan hilir.

Dampak persoalan tersebut juga dirasakan secara ekonomi. Ari memperkirakan satu perahu nelayan tradisional dapat menghasilkan pendapatan bersih sekitar Rp300 ribu per hari. Sementara jumlah perahu nelayan di wilayah Juwana diperkirakan mencapai 400 unit.

“Kalau ngomong soal kerugian, ya bisa saja dihitung 400 perahu kali 300 ribu per hari, sudah empat hari. Itu belum lagi kerugian kapal besar yang sedang melakukan perbaikan dan mengisi perbekalan, itu kan juga sangat terganggu,” paparnya.

Ari menambahkan, persoalan eceng gondok dan sampah di Sungai Juwana sebelumnya telah disampaikan dalam audiensi bersama DPRD Provinsi Jawa Tengah. Jampisawan juga telah melayangkan surat kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana untuk meminta audiensi sejak pekan lalu. Namun, hingga kini pihaknya mengaku belum menerima tanggapan.

Sementara itu, Kepala Desa Kedungpancing, Kecamatan Juwana, Didik Narwadi, mengatakan penumpukan eceng gondok mulai terlihat sejak tiga hari terakhir setelah bendung karet dibuka.

Di wilayah desanya saja, terdapat sekitar 50 perahu nelayan tradisional yang terdampak. Masing-masing perahu biasanya diawaki dua orang. Jumlah tersebut belum termasuk nelayan dari desa-desa lain di sepanjang aliran Sungai Juwana.

Didik menyebut setiap perahu berpotensi kehilangan pendapatan sekitar Rp300 ribu per hari akibat tidak bisa melaut.

Menurutnya, persoalan serupa hampir selalu terjadi setiap tahun. Saat bendung karet ditutup, eceng gondok dari wilayah hulu berkumpul di depan bendung. Ketika bendung dibuka, tanaman air tersebut mengalir secara bersamaan menuju hilir.

“Jadi mengagetkan, seluruh permukaan air itu kebak (penuh) eceng gondok,” katanya.

Bahkan, sehari sebelumnya hamparan eceng gondok sempat memenuhi sungai sepanjang kurang lebih dua kilometer, mulai dari wilayah Desa Bajomulyo. Meski sebagian tanaman air kini mulai terbawa arus, keberadaannya masih menghambat aktivitas nelayan.

Terkait penanganan, Didik mengatakan pemerintah desa terus berkoordinasi dengan BBWS Pemali Juana. Ia menyebut telah ada rencana peminjaman alat berat atau begu untuk mengangkut eceng gondok yang memenuhi sungai.

“Semoga alatnya cepat terealisasi dan bisa mengurangi eceng gondok. Tadi dijanjikan secepat mungkin,” pungkasnya.

Para nelayan berharap penanganan eceng gondok segera dilakukan agar jalur pelayaran kembali normal. Mereka juga berharap pengelolaan bendung karet ke depan disertai koordinasi dan langkah antisipasi sehingga kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim hujan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *