Kesenian Tradisional Pati Terancam Redup, Suharmanto Dorong Peran Aktif Pemerintah

  • Bagikan
banner 468x60

PATI – Keberlangsungan kesenian tradisional di Kabupaten Pati mendapat perhatian serius dari Anggota Komisi A DPRD Pati, Suharmanto. Ia menilai berbagai seni budaya lokal kini menghadapi tantangan berat akibat minimnya dukungan pemerintah dan derasnya arus modernisasi.

Menurut Suharmanto, selama ini upaya menjaga eksistensi kesenian tradisional masih banyak dilakukan secara mandiri oleh masyarakat dan para pelaku seni. Kondisi tersebut dinilai belum cukup untuk memastikan warisan budaya daerah tetap bertahan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

“Pelestarian budaya tidak bisa hanya mengandalkan semangat masyarakat. Pemerintah daerah harus hadir melalui kebijakan, pembinaan, dan dukungan anggaran yang berkesinambungan,” kata Suharmanto.

Ia menyoroti sejumlah kesenian khas Pati yang mulai kehilangan panggung dan penikmat, seperti wayang kulit, wayang golek, ketoprak, barongan, hingga wayang topeng dari Desa Soneyan. Berkurangnya frekuensi pementasan dan minimnya regenerasi pelaku seni menjadi tanda bahwa keberadaan kesenian tersebut membutuhkan perhatian lebih serius.

Suharmanto menilai kesenian tradisional bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas daerah yang mengandung nilai sejarah, pendidikan, serta filosofi kehidupan. Karena itu, keberadaannya harus dijaga agar tetap dikenal oleh generasi muda.

Ia mengungkapkan, barongan yang selama ini menjadi salah satu ikon budaya masyarakat Pati juga mulai menghadapi tantangan dalam proses regenerasi. Kurangnya ruang ekspresi dan apresiasi bagi para seniman membuat minat generasi muda untuk terlibat semakin berkurang.

Hal serupa terjadi pada kesenian wayang kulit dan ketoprak yang dahulu menjadi hiburan rakyat sekaligus sarana penyampaian pesan moral. Jika tidak ada langkah konkret, kesenian-kesenian tersebut dikhawatirkan semakin terpinggirkan.

Di sisi lain, Suharmanto memahami perkembangan hiburan modern yang kini lebih dekat dengan masyarakat, mulai dari pertunjukan musik hingga berbagai konten digital yang mudah diakses melalui gawai. Namun menurutnya, perkembangan tersebut tidak boleh membuat budaya lokal kehilangan perhatian.

“Hiburan modern adalah bagian dari perkembangan zaman dan tidak perlu dibatasi. Tetapi pemerintah juga harus memberikan ruang yang sama bagi kesenian tradisional agar tetap hidup dan berkembang,” tegas politisi Partai Demokrat itu.

Ia berharap DPRD dan Pemerintah Kabupaten Pati dapat memperkuat sinergi dalam merumuskan program pelestarian budaya, mulai dari pembinaan kelompok seni, penyelenggaraan festival budaya, hingga memasukkan kesenian tradisional dalam berbagai agenda daerah.

“Kalau tidak ada langkah nyata sejak sekarang, generasi mendatang bisa kehilangan kesempatan untuk mengenal budaya asli daerahnya sendiri. Ini menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga warisan leluhur tetap lestari,” pungkasnya.

(ADV)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *