Kemarau Panjang, Petani di Empat Kecamatan Pati Beralih Tanam Kedelai dan Kacang-Kacangan

  • Bagikan
banner 468x60

PATI — Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Pati mulai berdampak terhadap pola tanam petani. Terbatasnya ketersediaan air membuat sejumlah petani memilih beralih dari tanaman padi ke komoditas palawija yang dinilai lebih mampu bertahan dalam kondisi lahan kering.

Perubahan pola tanam tersebut terlihat di sejumlah wilayah sentra pertanian, terutama Kecamatan Pucakwangi, Jaken, Jakenan, dan Winong. Empat wilayah itu selama ini menjadi kawasan pertanian yang cukup banyak mengandalkan tanaman padi ketika memasuki musim penghujan.

Anggota DPRD Kabupaten Pati, Kastomo, menilai keputusan petani beralih ke tanaman palawija merupakan langkah realistis untuk menjaga lahan tetap produktif di tengah keterbatasan air.

“Karena kemarau panjang, petani di Pucakwangi, Jaken, Jakenan dan Winong banyak yang beralih ke tanaman palawija. Ada yang tanam kedelai, kacang tanah, kacang hijau. Ini langkah yang tepat agar lahan tidak kosong,” ujar Kastomo.

Menurutnya, komoditas seperti kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau memiliki karakteristik yang lebih sesuai untuk kondisi lahan dengan ketersediaan air terbatas. Selain itu, masa tanam sejumlah tanaman palawija relatif lebih pendek sehingga petani memiliki kesempatan memperoleh hasil lebih cepat.

Kastomo mengapresiasi upaya petani yang tetap berproduksi meski menghadapi tantangan cuaca. Ia menilai diversifikasi tanaman juga dapat menjadi peluang bagi Kabupaten Pati untuk memperkuat ketahanan pangan.

“Kalau kedelai dan kacang-kacangan hasilnya bagus, ini bisa membantu menekan impor. Petani Pati juga bisa berkontribusi pada kebutuhan nasional,” jelasnya.

Meski demikian, ia meminta pemerintah daerah tidak hanya mendorong petani melakukan perubahan pola tanam, tetapi juga memastikan kebutuhan mereka selama proses budidaya hingga masa panen.

Menurutnya, dukungan tersebut dapat berupa penyediaan benih, pupuk, pendampingan teknis, hingga akses pemasaran. Kepastian harga juga menjadi hal penting agar keuntungan petani tidak tergerus ketika hasil panen melimpah.

“Jangan sampai saat panen raya, harganya anjlok. Pemerintah lewat Dinas Pertanian harus bisa memfasilitasi akses pasar dan gudang untuk menampung hasil petani,” tegas Kastomo.

Selain dukungan sarana produksi, ia mendorong penguatan peran Petugas Penyuluh Lapangan (PPL). Penyuluhan diperlukan agar petani mendapatkan informasi mengenai teknik budidaya palawija, pemilihan varietas unggul, hingga pengelolaan lahan yang sesuai dengan kondisi kering.

Kastomo juga meminta pemerintah tetap menyiapkan opsi pengairan darurat di wilayah yang masih memungkinkan mendapatkan pasokan air. Salah satunya melalui penggunaan pompa untuk membantu mengairi lahan palawija.

“Kemarau ini ujian. Tapi kalau kita cerdas, ini bisa jadi momentum diversifikasi pangan. Jangan hanya bergantung pada padi,” katanya.

Ia menegaskan, kondisi kemarau tidak boleh membuat petani kehilangan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan dari lahannya.

“Petani ini tulang punggung Pati. Kita harus pastikan mereka tidak dirugikan, baik saat kemarau maupun saat panen,” pungkasnya.

(ADV)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *