Dua Tahun Diterjang Rob Akibat Tanggul Jebol, DPRD Pati Desak Pembangunan Tanggul Permanen di Tanggulsari

  • Bagikan
banner 468x60

PATI — Sudah dua tahun lamanya warga Desa Tanggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, harus hidup berdampingan dengan banjir rob. Setiap pagi, air laut pasang dengan mudah menerobos masuk dan merendam pemukiman warga akibat kondisi tanggul yang jebol dan tak lagi mampu menahan laju air.

Anggota DPRD Kabupaten Pati, Muntamah, menyebut bahwa jebolnya tanggul tersebut merupakan biang kerok utama dari bencana tahunan yang tak kunjung usai ini. Menurutnya, kerusakan ini membuat Desa Tanggulsari kehilangan pelindung alami dari laut.

“Permasalahan rob terjadi karena tanggul jebol dan tidak bisa menahan air pasang. Itu sudah 2 tahun terjadi dan warga setiap pagi kebanjiran,” ujar Muntamah saat memberikan keterangan kepada media.

Siklus banjir di desa ini terbilang konsisten: air laut mulai naik dan membanjiri rumah-rumah warga sejak pagi hari, kemudian perlahan mulai surut ketika sore menjelang. Fenomena “pagi pasang, sore surut” ini terus berulang dan sangat mengganggu aktivitas serta melumpuhkan roda ekonomi masyarakat setempat.

Muntamah menilai, upaya penanganan darurat yang selama ini dilakukan seperti menambal tanggul menggunakan karung pasir atau tanah tidak akan pernah cukup untuk menyelesaikan masalah. Selama struktur utama tanggul masih rapuh, rob akan terus melanda kawasan tersebut setiap tahunnya.

Sebagai solusi jangka panjang, ia mendesak pemerintah untuk segera turun tangan membangun infrastruktur yang kokoh berupa tanggul permanen.

“Pemerintah harus membangun tanggul permanen. Itu satu-satunya cara agar air pasang tidak lagi masuk ke pemukiman warga,” tegasnya.

Tanggul permanen dinilai memiliki daya tahan yang jauh lebih kuat untuk menahan tekanan air laut. Langkah ini dianggap sebagai harga mati demi menyelamatkan perekonomian dan kesejahteraan warga Desa Tanggulsari yang sudah dua tahun menderita.

Kendati mendesak pembangunan segera, politisi perempuan ini juga mengingatkan agar proyek tersebut tidak dilakukan secara asal-asalan. Ia meminta adanya analisis teknis yang mendalam sebelum proses konstruksi dimulai.

Pemerintah melalui dinas terkait wajib menghitung secara cermat mulai dari estimasi ketinggian tanggul, pemilihan material yang berkualitas, hingga memetakan titik-titik mana saja yang paling rawan jebol. Dengan begitu, anggaran yang dikucurkan tidak terbuang sia-sia dan tanggul benar-benar berfungsi efektif.

Muntamah menolak keras jika fenomena rob ini dibiarkan begitu saja dan dianggap sebagai takdir musibah tahunan tanpa ada upaya perbaikan yang konkret.

“Ini memang faktor alam, tapi pemerintah bisa melakukan sesuatu. Tanggul permanen itu adalah bentuk nyata dari kehadiran negara di tengah kesulitan warga,” pungkasnya.

Guna merealisasikan hal tersebut, ia berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati bisa segera bergerak cepat membangun koordinasi dengan pemerintah pusat guna mengupayakan bantuan anggaran.

Diharapkan, penderitaan dua tahun warga Tanggulsari dapat segera disudahi melalui pembangunan tanggul permanen ini.

(ADV)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *