Distribusi MBG Dapur Gembong Dipending, DPRD Pati Dorong Evaluasi Usai 269 Anak Terdampak

  • Bagikan
banner 468x60

PATI – Pendistribusian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pati Gembong Gemong atau SPPG Gembong 01 untuk sementara dipending setelah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) menyusul dugaan keracunan yang menimpa ratusan siswa.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Pati, Endah Sri Wahyuningati, mengatakan penghentian sementara distribusi tersebut menjadi langkah yang perlu dilakukan sembari menunggu proses evaluasi terhadap penyelenggaraan MBG di dapur tersebut.

“Sejauh ini sementara dipending. Sepertinya itu karena pasti akan ada evaluasi dan itu bukan ranah kami,” ujar Endah.

Diketahui, dugaan keracunan setelah mengonsumsi menu MBG tersebut mencapai 269 anak. Dari jumlah tersebut, 59 anak masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Endah menilai evaluasi penting dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya untuk mengetahui penyebab munculnya keluhan kesehatan, tetapi juga memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Menurutnya, kondisi tersebut juga berpotensi menimbulkan trauma bagi anak-anak yang menjadi korban. Karena itu, aspek keamanan makanan harus menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program MBG.

“Kami berharap ini akan menjadi sebuah evaluasi supaya anak-anak juga tidak trauma. Karena tadi anak-anak juga ada yang bilang trauma,” ungkapnya.

Di sisi lain, Endah menyebut sejumlah siswa mengaku tidak menemukan kejanggalan pada makanan yang dikonsumsi. Bahkan, ada siswa yang menyampaikan bahwa makanan tersebut tetap terasa enak dan tidak menunjukkan tanda-tanda basi maupun berbau.

“Walaupun ada yang bilang tadi makannya sampai habis, tiga ya. Enak makanannya. Mereka enggak merasa itu basi, bau, enggak, tapi kok bisa menimbulkan efek seperti ini,” jelasnya.

Kondisi tersebut, lanjut Endah, membuat penyebab dugaan keracunan perlu dipastikan melalui pemeriksaan secara ilmiah. Ia menilai pemeriksaan laboratorium menjadi bagian penting untuk mengetahui faktor yang menyebabkan puluhan hingga ratusan anak mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG.

“Seperti ini kan memang harus ada pemeriksaan khusus secara lab begitu ya, apa yang membuat anak-anak menjadi keracunan,” tegasnya.

Endah berharap evaluasi yang dilakukan nantinya dapat memberikan kejelasan mengenai penyebab kejadian sekaligus menjadi bahan perbaikan dalam pelaksanaan program MBG, terutama menyangkut keamanan dan kualitas makanan sebelum didistribusikan kepada siswa.

(ADV)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *