PATI – Komisi B DPRD Kabupaten Pati menilai masa depan sektor pertebuan di Kabupaten Pati masih sangat menjanjikan. Kebutuhan gula nasional yang hingga kini belum sepenuhnya terpenuhi menjadi peluang besar bagi petani tebu untuk meningkatkan produksi sekaligus pendapatan.
Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati, Kamari, mengatakan bahwa kondisi tersebut menjadi alasan kuat bagi petani untuk tetap optimistis mengembangkan budidaya tebu. Menurutnya, prospek usaha tani tebu dalam beberapa tahun ke depan diprediksi lebih baik dibandingkan sebelumnya.
“Alhamdulillah untuk prospek pertebuan ke depan itu akan lebih baik, sehingga membuat kita semakin semangat untuk mengembangkan sektor ini,” ujar Kamari.
Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Pati itu menjelaskan, tingginya kebutuhan gula nasional yang belum mampu dipenuhi produksi dalam negeri membuat permintaan pasar terhadap gula tetap terjaga. Dampaknya, harga gula dinilai relatif stabil dan memberikan keuntungan bagi petani.
Ia menyebut, selama kebutuhan gula nasional masih mengalami kekurangan, komoditas gula hasil produksi petani akan tetap memiliki pasar yang kuat. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menjaga gairah petani untuk terus menanam tebu.
“Karena kebutuhan gula nasional masih kurang, otomatis harga gula tetap memiliki nilai jual yang baik. Ini tentu menguntungkan petani,” katanya.
Di sisi lain, Kamari juga mengapresiasi langkah pabrik gula yang terus melakukan inovasi dan revitalisasi. Menurutnya, upaya tersebut menunjukkan keseriusan industri gula dalam meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat kemitraan dengan petani tebu.
Ia menilai keberhasilan industri gula tidak bisa dilepaskan dari kontribusi petani sebagai pemasok bahan baku utama. Karena itu, hubungan yang saling menguntungkan antara pabrik gula dan petani harus terus dijaga.
“Pabrik gula terus berinovasi dan melakukan revitalisasi. Ini menunjukkan adanya komitmen antara pabrik gula dan petani untuk terus bersinergi demi keberlangsungan industri gula,” jelasnya.
Kamari mencontohkan kondisi di PG Trangkil yang hingga saat ini masih sangat bergantung pada pasokan tebu dari petani. Sebagian besar bahan baku yang diolah pabrik tersebut berasal dari hasil panen petani lokal.
“Kalau pabrik terus melakukan revitalisasi, berarti mereka memang sangat membutuhkan pasokan tebu. Di PG Trangkil sendiri sekitar 99 persen bahan baku yang diolah berasal dari petani. Artinya peran petani sangat dominan,” ungkapnya.
Melihat potensi lahan dan tingginya produksi tebu yang ada, Kamari optimistis Kabupaten Pati mampu memperkuat posisinya sebagai salah satu sentra tebu nasional. Bahkan, ia berharap produksi gula dari PG Trangkil ke depan dapat memenuhi kebutuhan gula konsumsi maupun kebutuhan industri.
“Pati memang memiliki potensi besar sebagai lumbung tebu. Harapannya, produksi dari PG Trangkil nantinya mampu menopang kebutuhan gula konsumsi dan gula industri secara lebih luas,” pungkasnya.
(ADV)













