Derita Sopir Truk Odol: Blokade Jalanan, Suara dari Akar Rumput

  • Bagikan
banner 468x60

Pati – Suara klakson bergema di Jalan Lingkar Selatan, Desa Tanjang, Kamis (19/6/2025) siang. Puluhan truk besar berjajar memadati ruas jalan, tak sekadar parkir ini adalah bentuk perlawanan. Para sopir truk Over Dimension Over Load (ODOL) menghentikan perjalanan mereka, bukan karena kelelahan, tapi karena nasib yang mereka rasa terabaikan.

Sejak pukul 10.00 WIB, para sopir mulai memblokade jalan. Spanduk-spanduk penuh keluh kesah dan kritik tergantung di badan truk mereka. Satu spanduk mencolok berbunyi, “Turut Berduka Cita Atas Matinya Pikiran Pemerintah.” Di sampingnya, tertulis harapan yang getir: “Jangan sampai kami jadi penjahat demi mencukupi anak istri.”

Afif, salah satu sopir yang ikut aksi, mengaku kecewa berat terhadap kebijakan Zero ODOL yang diterapkan pemerintah. Menurutnya, kebijakan ini seolah tidak mempertimbangkan realitas di lapangan.

“Kita ini hanya mengangkut bahan pangan, supaya harganya tetap terjangkau di tempat tujuan. Kalau dilarang begini, siapa yang mikir anak-istri kami?” ungkapnya dengan mata berkaca.

Bagi mereka, truk ODOL bukan sekadar kendaraan, melainkan nadi penghidupan. Larangan beroperasi justru dianggap mematikan mata pencaharian ribuan keluarga sopir.

Afif berharap pemerintah turun langsung ke lapangan sebelum mengambil keputusan besar. “Jangan lihat dari atas, turunlah ke desa-desa. Ini belum jelas arahnya, tapi sudah mematikan penghasilan kami,” tegasnya.

Aksi ini bukan sekadar mogok, tapi teriakan sunyi dari jalanan. Sebuah seruan agar kebijakan tak hanya berbasis aturan, tapi juga rasa.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *