OTT KPK Bupati Pati, Botok Cs Serukan Kibarkan Bendera Setengah Tiang

  • Bagikan
banner 468x60

PATI – Penangkapan Bupati Pati Sudewo dalam operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memicu gelombang kemarahan publik. Di tengah proses hukum yang berjalan, terdakwa Supriyono alias Botok bersama Teguh Istiyanto menyuarakan seruan kepada masyarakat Kabupaten Pati untuk mengibarkan bendera setengah tiang sebagai simbol duka dan perlawanan moral.

Seruan tersebut disampaikan langsung oleh Teguh Istiyanto saat memberikan pernyataan di Pengadilan Negeri Pati, Rabu (21/01/2026). Keduanya menilai tertangkapnya Sudewo bukan sekadar persoalan hukum, melainkan tamparan keras bagi marwah pemerintahan daerah dan harga diri masyarakat Pati.

“Kibarkan bendera setengah tiang di Kabupaten Pati. Ini bukan kebanggaan, ini aib. Ini duka mendalam bagi rakyat Pati,” tegas Teguh dengan nada geram.

Menurut Teguh, OTT KPK tersebut sekaligus membuktikan bahwa kekhawatiran masyarakat selama ini bukan isapan jempol. Ia menilai Sudewo telah menunjukkan tabiat kepemimpinan yang bermasalah sejak awal menjabat, mulai dari kebijakan penarikan pajak terhadap pedagang kaki lima (PKL), kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) yang dinilai memberatkan warga, hingga dugaan pemerasan terhadap calon perangkat desa.

“Ini pemerasan sistematis. Dari rakyat kecil sampai calon perangkat desa diperas. Sekarang terbukti dengan OTT KPK,” ujarnya lantang.

Sementara itu, Supriyono alias Botok menyebut tertangkapnya Sudewo sebagai cermin rusaknya moral pejabat di Kabupaten Pati. Ia menilai praktik korupsi telah menjalar dari pucuk pimpinan hingga ke level pemerintahan bawah.

“Korupsi ini sudah dari bupati sampai kepala desa. Ini kehancuran moral. Maka wajar kalau bendera setengah tiang dikibarkan sebagai tanda duka,” katanya.

Keduanya juga menyoroti ironi penegakan hukum, di mana aktivis yang bersuara kritis justru harus mendekam di balik jeruji besi, sementara praktik korupsi dilakukan secara terbuka oleh pejabat.

“Kami yang berjuang malah dikriminalisasi. Tapi hari ini kebenaran mulai terbuka. Allah dan rakyat tahu mana yang benar dan mana yang zalim,” ucap Teguh.

Seruan pengibaran bendera setengah tiang itu disebut sebagai bentuk perlawanan moral sekaligus pesan keras kepada seluruh pejabat agar tidak mempermainkan amanah rakyat.

“Ini peringatan keras. Pati sedang berduka karena dipimpin oleh penguasa yang mengkhianati rakyatnya,” pungkas Botok.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *