Menu Cepat Basi dan Berlendir, SMP 1 Tayu Alihkan MBG ke SPPG Kedungsari

  • Bagikan
banner 468x60

PATI – Video pengembalian menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh SMP Negeri 1 Tayu, Kabupaten Pati, viral di media sosial. Dalam video tersebut, pihak sekolah mengembalikan makanan yang didistribusikan dari SPPG Tayu Kulon karena dinilai tidak layak konsumsi.

Wakil Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Tayu, Heri Setyawan, membenarkan kejadian tersebut saat ditemui di sekolah, Senin (2/3/2026). Ia menjelaskan, sejumlah siswa mengeluhkan kondisi makanan yang diterima, terutama menu kukusan yang cepat basi.

“Ketika dibawa pulang, banyak anak yang mengeluh. Contohnya singkong kukus yang diberi margarin, sampai rumah sudah basi saat dibuka. Pernah juga kacang rebus dibungkus plastik, ketika dibuka anak-anak sudah berlendir,” ujar Heri.

Ia menambahkan, beberapa menu kukusan lain seperti ketan juga dikeluhkan siswa. Pihak sekolah mengaku sudah beberapa kali mengomunikasikan persoalan tersebut kepada pihak penyedia, namun belum ada perbaikan signifikan.

“Padahal sudah kita komunikasikan, tapi kok tidak ada perbaikan yang signifikan. Daripada nanti berpotensi seperti kasus-kasus keracunan dan malah jadi lebih fatal, maka kita putuskan untuk dikembalikan,” tegasnya.

Heri memastikan, pengembalian makanan tersebut telah dikonfirmasi kepada ahli gizi dan pihak SPPG untuk dicarikan solusi bersama. Hasilnya, distribusi MBG untuk sementara dialihkan ke SPPG Kedungsari.

Menurutnya, pihak SPPG Kedungsari telah datang langsung ke sekolah bersama ahli gizi, kepala SPPG, dan asisten lapangan untuk berdiskusi terkait kebutuhan dan evaluasi menu.

“Alhamdulillah sudah ada solusi. Dari Kedungsari menyampaikan gambaran menu, ada kacang hijau, ada roti yang aman dikonsumsi sampai berbuka. Mereka juga menyampaikan nominal dan daftar menu di awal, serta menanyakan apakah ada permintaan lain. Jadi sudah ada keterbukaan harga dan menu, itu yang kami harapkan,” jelasnya.

Ia menegaskan, pihak sekolah bukan mengajukan keinginan khusus, melainkan menyampaikan berbagai permasalahan yang muncul di lapangan.

“Kita bukan keinginan, tapi permasalahan-permasalahan yang muncul. Seperti menu kukusan dihindari. Kemudian telur yang berpotensi tidak dimakan anak, bisa dialihkan ke protein lain,” pungkas Heri.

Dengan adanya evaluasi ini, pihak sekolah berharap program Makan Bergizi Gratis tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kualitas makanan bagi para siswa.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *